jump to navigation

Liqo (1): Kemanakah Adab Itu? December 9, 2008

Posted by catatantarbiyah in Liqo.
add a comment

Handphone ku berdering. Oh…Ummi tersayang menelpon, pasti sesuatu yang penting. “Assalamu’alaikum…” jawabku. “Wa’alaikumsalam warahmatullah…” suara yang hangat kudengar dari seberang sana, suara kedua yang paling kurindukan setelah suara Mama. “Dek…” suara itu melanjutkan, “Daging kurban antum ada di rumah ya. Kalau dipakai untuk liqo fanniyah kita pekan ini bagaimana?” tanya Ummi padaku. “Tafadhal ummi, saya sudah pasrahkan semua. Lagipula kalau mau diambil, di kost siapa yang akan memasaknya? Nggak apa-apa Ummi dipakai saja.” jawabku.

“Dek…” Ummi kembali melanjutkan, “kalau liqo kita dimundurkan menjadi Rabu atau Sabtu bagaimana? Ada agenda DPD yang berubah Selasa besok.” tanya Ummi padaku. “Hmm…rencananya Sabtu ingin pulang Ummi, ada sahabat saya akan menikah. Kalau hari Rabu, sulit memastikan hadir kalau di hari kerja, suasana kantor tidak bisa ditebak.” jawabku tanpa pikir panjang, seolah-olah di dunia ini hanya aku yang punya kesibukan. “Oh…ya sudah nanti coba tanya Mbak Dian apakah beliau bisa hadir atau tidak? Sudah dulu ya dek. Assalamu’alaikum.” Ummi mengakhiri percakapan.

Satu…dua…tiga…deg…astaghfirullah…segunung rasa bersalah memenuhi benakku. Kok bisa-bisanya aku berkata seperti itu pada murabbi-ku yang bahkan telah bersusah payah menelpon mutarabbi-nya satu per satu untuk menanyakan sejenak waktu senggang para mutarabbi-nya agar majelis pekanan itu bisa terselenggara dengan baik. Padahal jelas urusan beliau bukan hanya satu halaqah ini. Dan jelas menelpon satu per satu mutarabbi-nya tentu memerlukan biaya yang tak sedikit. Lagipula, bukankah harusnya mutarabbi yang bersusah payah menyesuaikan dengan murabbi-nya, bukan sebaliknya? Dimanakah adab dan sopan santun menuntut ilmu itu? Ilmu hendaklah dituntut, bukan ilmu yang harus mengejar-ngejar para “penuntutnya”. Astaghfirullah…

Kuambil handphone, segera kukirim SMS meralat pernyataanku tadi. “Saya akan usahakan semaksimal mungkin untuk hadir Ummi, kapan pun Ummi mau menjadwalkan liqo.” Maafkan anakmu ini Ummi yang jangankan untuk membalas segenap cinta yang engkau berikan, sekedar membalas sapaan hangatmu saja diri ini tidak bisa. Ummi, semoga barakah dan ridha Allah subhana wa ta’ala senantiasa meliputi langkahmu…Uhibbukum fillah…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.