jump to navigation

Barokah June 26, 2009

Posted by catatantarbiyah in Keluarga.
Tags: , , , ,
trackback

Pernah ku kenal seorang sahabat, luar biasa prestasinya, istiqomah ibadahnya, dan luas pergaulannya. Rasa-rasanya hampir semua orang yang mengenalnya pasti akan merasa senang dekat dan berbincang dengannya karena akan selalu ada makna dan pengetahuan baru dari kata-katanya. Ketika aku bertanya kepada orang-orang yang mengenal keluarganya, seperti apakah gerangan keluarganya mendidiknya sehingga menjadi sosok penuh prestasi seperti itu? Mereka menjawab bahwa tidak ada yang istimewa dari kedua orang tuanya, mereka hanya petani bawang. Subhanallah!

Pernah pula ku temui sebuah keluarga. Sebelas putra putri mereka, dan kesemuanya adalah para hafidz. Si sulung dan yang kedua sudah khatam bahkan mumtaz dalam tahfidz. Keluarga yang ini memang serius mendidik anak-anak mereka sehingga mencapai kualitas demikian. Namun, aku tetap dibuat tertegun kagum karena jumlah putra-putri mereka tidak satu atau dua, tetapi mencapai angka belasan. Sungguh bukan pekerjaan mudah mendidik sebelas anak dengan berbagai karakternya. Entah tak terhitung berapa banyak keluarga yang hanya memiliki satu atau dua anak saja tetapi tidak ada yang berhasil menjadi “orang”, sementara keluarga ini memiliki sebelas…ya sebelas putra-putri yang hafidz, di zaman “segila” ini mereka membesarkan sebelas putra-putri mereka menjadi para pemelihara Al Qur’an. Subhanallah!

Di lain kesempatan, ku kenal pula keluarga sederhana yang lain tetapi putra-putrinya telah berkelana mengarungi dunia tanpa sepeser pun meminta dari orang tua. Mereka memperoleh kesempatan itu karena prestasi-prestasi mereka dan berpergian pun adalah untuk kembali mengukir prestasi. Tak ada yang lain yang bisa kuucap dari bibir ini selain…Subhanallah…sungguh Maha Suci Engkau ya Rabb…

Ya begitulah parade ke-maha-an Allah SWT. Seringkali akal manusia tak mampu menalar, bagaimana bisa mereka yang demikian sederhana, yang tak pernah mengecap cukup pendidikan formal untuk memperoleh ilmu-ilmu cara mendidik anak, yang tak pernah ikut seminar “parenting day”, dan tak mungkin tak pernah pula membuka internet mencari artikel dan tips mendidik anak, tapi berhasil mengantarkan putra-putrinya menjadi bintang-bintang gemilang di masyarakatnya?

Sementara itu di lain sisi, tak sedikit keluarga yang telah mengorbankan jutaan rupiah untuk memberikan berbagai les tambahan bagi putra-putrinya, namun justru hanya kecewa dan kecewa yang dijumpa karena sang anak telah jauh dari harapan ayah bundanya.

Sepertinya inilah yang disebut “barokah”. Barokah yang hadir karena kesetiaan seorang hamba Allah kepada keimanannya. Barokah yang kemudian melahirkan seorang Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang cucu seorang gadis pemerah susu yang tak mau mencampur susunya dengan air karena takutnya ia pada pengawasan Allah SWT.

Anak-anak tak semata-mata dibesarkan dengan ilmu, gizi, imunisasi, apalagi harta. Ada “tangan-tangan” Allah yang selalu bekerja mendidik dan menjaga mereka. Dan “tangan-tangan” inilah yang harus diminta setiap orang tua dalam do’a-do’a mereka, agar kelak putra-putrinya menjadi penyejuk mata dan penentram jiwa serta penegak panji-panji “Laa illaha ilallah” di bumi Allah ini.

Dan kumohonkan maaf pada anak-anakku kelak karena diri ini belumlah cukup istiqomah hingga mampu mengundang ke-barokah-an itu. Di hati kecil berharap, semoga Allah SWT Yang Maha Pemurah masih memperkenankan ke-barokah-an itu pada anak-anakku kelak walau diri ini masih tak pantas….

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.