Merantau December 20, 2008
Posted by catatantarbiyah in Tarbiyah.trackback
Berpindah-pindah tempat tinggal nampaknya sudah menjadi bagian dari hidup saya. Dalam usia belum genap 25 tahun, setidaknya sudah 5 kota menjadi tempat tinggal saya. Dan di masa depan, kemungkinan untuk berpindah-pindah tempat tinggal masih terbuka lebar. Apalagi jika saya memilih untuk berkarir di profesi saya sekarang.
Berpindah-pindah tempat tinggal atau mungkin bisa disebut merantau adalah hal biasa bagi sebagian orang, bahkan ada beberapa suku di Indonesia yang menjadikan merantau adalah suatu hal yang wajib dilakukan jika seseorang ingin dianggap sebagai manusia dewasa. Tapi di sisi lain, banyak pula orang Indonesia yang enggan merantau. “Mangan ora mangan asal kumpul” (Makan tidak makan asal kumpul), masih melekat di benak banyak orang sehingga tidak heran bahwa orang Indonesia termasuk yang jarang berpergian ke luar negeri.
Saya bersyukur memiliki pengalaman berpindah-pindah tempat tinggal, dan sekarang pun saya hidup di perantauan. Walau jauh dari keluarga dan orang-orang yang saya kenal dan harus memulai dari nol lagi hubungan-hubungan sosial, saya menikmatinya. Walau harus diakui, perantauan masa kini tidak sesulit dahulu, kemajuan teknologi informasi telah memudahkan banyak hal, termasuk menjaga silaturahim saya dengan orang-orang yang saya kenal.
Dengan merantau, wawasan dan pola pikir saya jadi lebih terbuka. Pikiran kita selalu dikondisikan untuk menerima hal-hal baru karena di perantauan banyak hal yang tidak kita ketahui, berbeda dengan ketika kita berada di tempat asal kita yang hampir-hampir segala sesuatunya telah kita ketahui. “Pikiran yang terbuka adalah sebuah modal yang baik untuk maju”, begitu seorang dosen saya pernah berkata.
Mungkin inilah salah satu rahasia kecerdasan Rasulullah SAW. Sejak kecil Rasulullah SAW telah terbiasa melakukan perjalanan jauh mengingat beliau dibesarkan di tengah budaya saudagar Arab yang tentunya sering melakukan berbagai perjalanan dagang. Maka, sejak kecil Rasulullah telah terbiasa melihat hal-hal baru di luar lingkungan kesehariannya.
Rasa-rasanya ingin juga hal ini dirasakan anak-anakku kelak, mereka harus terbiasa menerima hal-hal dan lingkungan baru, belajar beradaptasi dengan cepat. Memang setiap pilihan ada plus minusnya, dengan berpindah-pindah tempat tinggal ada kemungkinan anak-anak tidak sempat membina hubungan persahabatan dengan teman-teman kecilnya. Dan mungkin pula anak-anak akan bingung dan gamang dengan budaya lingkungannya yang berubah-ubah.
Tapi, aku yakin hal itu bisa diatasi karena Insya Allah kemana pun kaki ini melangkah, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya “sendirian”, pastilah cepat atau lambat akan dipertemukan dengan saudaranya. Salah satu hal yang sangat kusyukuri karena mengenal dakwah ini adalah relatif mudahnya memulai lagi hubungan sosial di tanah perantauan. Kesamaan visi dan cara pembinaan telah memudahkan semua. Oleh karena itu, aku percaya bahwa akan ada satu lingkungan dan budaya yang akan mewarnai anak-anakku kelak, yaitu budaya dan lingkungan tarbiyah dan dakwah.
Comments»
No comments yet — be the first.