jump to navigation

Barokah June 26, 2009

Posted by catatantarbiyah in Keluarga.
Tags: , , , ,
add a comment

Pernah ku kenal seorang sahabat, luar biasa prestasinya, istiqomah ibadahnya, dan luas pergaulannya. Rasa-rasanya hampir semua orang yang mengenalnya pasti akan merasa senang dekat dan berbincang dengannya karena akan selalu ada makna dan pengetahuan baru dari kata-katanya. Ketika aku bertanya kepada orang-orang yang mengenal keluarganya, seperti apakah gerangan keluarganya mendidiknya sehingga menjadi sosok penuh prestasi seperti itu? Mereka menjawab bahwa tidak ada yang istimewa dari kedua orang tuanya, mereka hanya petani bawang. Subhanallah!

Pernah pula ku temui sebuah keluarga. Sebelas putra putri mereka, dan kesemuanya adalah para hafidz. Si sulung dan yang kedua sudah khatam bahkan mumtaz dalam tahfidz. Keluarga yang ini memang serius mendidik anak-anak mereka sehingga mencapai kualitas demikian. Namun, aku tetap dibuat tertegun kagum karena jumlah putra-putri mereka tidak satu atau dua, tetapi mencapai angka belasan. Sungguh bukan pekerjaan mudah mendidik sebelas anak dengan berbagai karakternya. Entah tak terhitung berapa banyak keluarga yang hanya memiliki satu atau dua anak saja tetapi tidak ada yang berhasil menjadi “orang”, sementara keluarga ini memiliki sebelas…ya sebelas putra-putri yang hafidz, di zaman “segila” ini mereka membesarkan sebelas putra-putri mereka menjadi para pemelihara Al Qur’an. Subhanallah!

Di lain kesempatan, ku kenal pula keluarga sederhana yang lain tetapi putra-putrinya telah berkelana mengarungi dunia tanpa sepeser pun meminta dari orang tua. Mereka memperoleh kesempatan itu karena prestasi-prestasi mereka dan berpergian pun adalah untuk kembali mengukir prestasi. Tak ada yang lain yang bisa kuucap dari bibir ini selain…Subhanallah…sungguh Maha Suci Engkau ya Rabb…

Ya begitulah parade ke-maha-an Allah SWT. Seringkali akal manusia tak mampu menalar, bagaimana bisa mereka yang demikian sederhana, yang tak pernah mengecap cukup pendidikan formal untuk memperoleh ilmu-ilmu cara mendidik anak, yang tak pernah ikut seminar “parenting day”, dan tak mungkin tak pernah pula membuka internet mencari artikel dan tips mendidik anak, tapi berhasil mengantarkan putra-putrinya menjadi bintang-bintang gemilang di masyarakatnya?

Sementara itu di lain sisi, tak sedikit keluarga yang telah mengorbankan jutaan rupiah untuk memberikan berbagai les tambahan bagi putra-putrinya, namun justru hanya kecewa dan kecewa yang dijumpa karena sang anak telah jauh dari harapan ayah bundanya.

Sepertinya inilah yang disebut “barokah”. Barokah yang hadir karena kesetiaan seorang hamba Allah kepada keimanannya. Barokah yang kemudian melahirkan seorang Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang cucu seorang gadis pemerah susu yang tak mau mencampur susunya dengan air karena takutnya ia pada pengawasan Allah SWT.

Anak-anak tak semata-mata dibesarkan dengan ilmu, gizi, imunisasi, apalagi harta. Ada “tangan-tangan” Allah yang selalu bekerja mendidik dan menjaga mereka. Dan “tangan-tangan” inilah yang harus diminta setiap orang tua dalam do’a-do’a mereka, agar kelak putra-putrinya menjadi penyejuk mata dan penentram jiwa serta penegak panji-panji “Laa illaha ilallah” di bumi Allah ini.

Dan kumohonkan maaf pada anak-anakku kelak karena diri ini belumlah cukup istiqomah hingga mampu mengundang ke-barokah-an itu. Di hati kecil berharap, semoga Allah SWT Yang Maha Pemurah masih memperkenankan ke-barokah-an itu pada anak-anakku kelak walau diri ini masih tak pantas….

Tekad dan Cita January 23, 2009

Posted by catatantarbiyah in Doa.
Tags: ,
add a comment

Geram rasanya melihat kesewenang-wenangan tangan-tangan kotor itu mengoyak-ngoyak Bumi Palestina. Ya begitulah, baru sebatas geram yang bisa kulakukan. Belum ada karya nyata yang bisa kuhasilkan untuk membela saudara-saudara Muslim di Palestina, Bumi Para Nabi.

Membaca artikel di sebuah situs jejaring sosial yang ditampilkan oleh seorang kawan, rasanya seperti menelan pil pahit sepahit-pahitnya. Pahit dan getir menyadari realitas umat ini yang begitu jauh dari ciri-ciri “umat terbaik yang dilahirkan bagi umat manusia”, sebuah tahta mulia yang Allah SWT janjikan kepada umat ini. Tahta yang menanti untuk kembali di rebut dengan segenap kerja keras dan kesungguhan doa.

Umat yang dalam Al Qur’an berkali-kali dicela karena pembangkangan mereka yang nyata kepada perintah-perintah Allah SWT nyatanya saat ini berjaya sebagai umat yang identik dengan penguasaan ilmu pengetahuan, sungguh suatu kenyataan yang memprihatinkan. Ilmu yang sesungguhnya adalah atribut orang beriman malah begitu jauh dari mereka yang menyatakan beriman kepada Allah SWT.

Aku sadar bahwa diri ini pun masih menjadi bagian dari masalah umat ini, belumlah lagi menjadi bagian dari solusi permasalahan umat. Setelah bertahun-tahun lalu diombang-ambing bimbang dalam ketidakjelasan tujuan hidup dan demotivasi menuntut ilmu, saat ini aku sadar bahwa telah menjadi kewajiban yang tak terelakkan untuk bersegera mentransformasi diri menjadi bagian dari solusi permasalahan umat.

Kutekadkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan berkarya sekuat tenaga hingga ajal menjemput. Bukan untukku atau sekedar mencari “derajat” di mata manusia, tetapi karena umat ini membutuhkan lebih banyak ilmuwan untuk bangkit. Dan aku tidak bisa menunggu atau berharap orang lain akan memainkan peran itu. Walau aku sadar bahwa begitu banyak kekurangan dan kelemahan dalam diri ini, tapi jika tak kumulai dari diriku sendiri lantas harus kumulai dari mana?

Aku pun bercita-cita bahwa anak-anakku kelak adalah para pecinta dan pengamal ilmu. Menuntut ilmu setinggi-tingginya dan beramal sekuat tenaga, demi kemuliaan umat ini, demi tegaknya kalimat “Laa illaha ilallah” di bumi ini. Ya Allah perkenankanlah…Amin…  

================================================================================= Why are Jews so powerful?

An Islam columnist on Jews, INTERESTING reading

Why are Jews so powerful?

There are only 14 million Jews in the world; seven million in the Americas, five million in Asia, two million in Europe and 100,000 in Africa.. For every single Jew in the world there are 100 Muslims. Yet, Jews are more than a hundred times more powerful than all the Muslims put together. Ever wondered why?

Jesus of Nazareth was Jewish. Albert Einstein, the most influential scientist of all time and TIME magazine’s ‘Person of the Century’, was a Jew. Sigmund Freud — id, ego, superego — the father of psychoanalysis was a Jew. So were Karl Marx, Paul Samuelson and Milton Friedman.

Here are a few other Jews whose intellectual output has enriched the whole humanity:

Benjamin Rubin gave humanity the vaccinating needle. 

Jonas Salk developed the first polio vaccine.

AlBert Sabin developed the improved live polio vaccine.

Gertrude Elion gave us a leukemia fighting drug.

Baruch Blumberg developed the vaccination for Hepatitis B.

Paul Ehrlich discovered a treatment for syphilis (a sexually transmitted disease).

Elie Metchnikoff won a Nobel Prize in infectious diseases.

Bernard Katz won a Nobel Prize in neuromuscular transmission.

Andrew Schally won a Nobel in endocrinology (disorders of the endocrine system; diabetes, hyperthyroidism) .

Aaron Beck founded Cognitive Therapy (psychotherapy to treat mental disorders, depression and phobias).

Gregory Pincus developed the first oral contraceptive pill.

George Wald won a Nobel for furthering our understanding of the human eye.

Stanley Cohen won a Nobel in embryology (study of embryos and their development) . 

Willem Kolff came up with the kidney dialysis machine.

Over the past 105 years, 14 million Jews have won 15-dozen Nobel. Prizes while only three Nobel Prizes have been won by 1.4 billion Muslims (other than Peace Prizes).

Why are Jews so powerful?

Stanley Mezor invented the first micro-processing chip. 

Leo Szilard developed the first nuclear chain reactor.

Peter Schultz, optical fibre cable.

 Charles Adler, traffic lights.  

Benno Strauss, Stainless steel.

Isador Kisee, sound movies.  

Emile Berliner, telephone microphone.

Charles Ginsburg, videotape recorder.

Famous financiers in the business world who belong to Jewish faith include Ralph Lauren (Polo), Levis Strauss (Levi’s Jeans), Howard Schultz (Starbuck’s) , Sergey Brin (Google), Michael Dell (Dell Computers), Larry Ellison (Oracle), Donna Karan (DKNY), Irv Robbins (Baskins & Robbins) and Bill Rosenberg (Dunkin Donuts). Richard Levin, President of Yale University, is a Jew.

So are Henry Kissinger (American secretary of state), Alan Greenspan (Fed chairman under Reagan, Bush, Clinton and Bush), Joseph Lieberman, Madeleine Albright (American secretary of state), Casper Weinberger (American secretary of defense), Maxim Litvinov ( USSR foreign Minister), David Marshal ( Singapore ’s first chief minister), Issac Isaacs (governor-general of Australia ), Benjamin Disraeli (British statesman and author), Yevgeny Primakov (Russian PM), Barry Goldwater, Jorge Sampaio (president of Portugal ), John Deutsch (CIA director), Herb Gray (Canadian deputy PM), Pierre Mendes (French PM), Michael Howard (British home secretary), Bruno Kreisky (chancellor of Austria) and Robert Rubin (American secretary of treasury).

In the media, famous Jews include Wolf Blitzer (CNN), Barbara Walters (ABC News), Eugene Meyer (Washington Post), Henry Grunwald (editor-in-chief Time), Katherine Graham (publisher of The Washington Post), Joseph Lelyyeld (Executive editor, The New York Times), and Max Frankel (New York Times).

Can you name the most beneficent philanthropist in the history of the world? The name is George Soros, a Jew, who has so far donated a colossal $4 billion most of which has gone as aid to scientists and universities around the world. Second to George Soros is Walter Annenberg, another Jew, who has built a hundred libraries by donating an estimated $2 billion.

At the Olympics, Mark Spitz set a record of sorts by wining seven gold medals. Lenny Krayzelburg is a three-time Olympic gold medalist. Spitz, Krayzelburg and Boris Becker are all Jewish. Did you know that Harrison Ford, George Burns, Tony Curtis, Charles Bronson, Sandra Bullock, Billy Crystal, Woody Allen, Paul Newman, Peter Sellers, Dustin Hoffman, Michael Douglas, Ben Kingsley, Kirk Douglas, Goldie Hawn, Cary Grant, William Shatner, Jerry Lewis and Peter Falk are all Jewish?

As a matter of fact, Hollywood itself was founded by a Jew. Among directors and producers, Steven Spielberg, Mel Brooks, Oliver Stone, Aaron Spelling (Beverly Hills 90210), Neil Simon (The Odd Couple), Andrew Vaina (Rambo 1/2/3), Michael Man (Starsky and Hutch), Milos Forman (One flew over the Cuckoo’s Nest), Douglas Fairbanks (The thief of Baghdad ) and Ivan Reitman (Ghostbusters) are all Jewish. To be certain, Washington is the capital that matters and in Washington the lobby that matters is The American Israel Public Affairs Committee, or AIPAC. Washington knows that if PM Ehud Olmert were to discover that the earth is flat, AIPAC will make the 109th Congress pass a resolution congratulating Olmert on his discovery.

William James Sidis, with an IQ of 250-300, is the brightest human who ever existed. Guess what faith did he belong to? So, why are Jews so powerful? Answer: Education.

Why are Muslims so powerless?

There are an estimated 1,476,233,470 Muslims on the face of the planet: one billion in Asia, 400 million in Africa, 44 million in Europe and six million in the Americas . Every fifth human being is a Muslim; for every single Hindu there are two Muslims, for every Buddhist there are two Muslims and for every Jew there are one hundred Muslims. Ever wondered why  Muslims are so powerless?

Here is why: There are 57 member-countries of the Organisation of Islamic Conference (OIC), and all of them put together have around 500 universities; one university for every three million Muslims. The United States has 5,758 universities and India has 8,407. In 2004, Shanghai Jiao Tong University compiled an ‘Academic Ranking of World Universities’ , and intriguingly, not one university from Muslim-majority states was in the top-500.

As per data collected by the UNDP, literacy in the Christian world stands at nearly 90 per cent and 15 Christian-majority states have a literacy rate of 100 per cent. A Muslim-majority state, as a sharp contrast, has an average literacy rate of around 40 per cent and there is no Muslim-majority state with a literacy rate of 100 per cent. Some 98 per cent of the ‘literates’ in the Christian world had completed primary school, while less than 50 per cent of the ‘literates’ in the Muslim world did the same. Around 40 per cent of the ‘literates’ in the Christian world attended university while no more than two per cent of the ‘literates’ in the Muslim world did the same. Muslim-majority countries have 230 scientists per one million Muslims. The US has 4,000 scientists per million and Japan has 5,000 per million.

In the entire Arab world, the total number of full-time researchers is 35,000 and there are only 50 technicians per one million Arabs (in the Christian world there are up to 1,000 technicians per one million). Furthermore, the Muslim world spends 0.2 per cent of its GDP on research and development, while the Christian world spends around five per cent of its GDP.  Conclusion: The Muslim world lacks the capacity to produce knowledge.

Daily newspapers per 1,000 people and number of book titles per million are two indicators of whether knowledge is being diffused in a society. In Pakistan , there are 23 daily newspapers per 1,000 Pakistanis while the same ratio in Singapore is 360. In the UK , the number of book titles per million stands at 2,000 while the same in Egypt is 20. Conclusion: The Muslim world is failing to diffuse knowledge.

Exports of high technology products as a percentage of total exports are an important indicator of knowledge application. Pakistan ’s export of high technology products as a percentage of total exports stands at one per cent. The same for Saudi Arabia is 0.3 per cent; Kuwait , Morocco , and Algeria are all at 0.3 per cent while Singapore is at 58 per cent. Conclusion: The Muslim world is failing to apply knowledge.

Why are Muslims powerless? Because we aren’t producing knowledge. Why are Muslims powerless? Because we aren’t diffusing knowledge. Why are Muslims powerless? Because we aren’t applying knowledge. And, the future belongs to knowledge-based societies.

Interestingly, the combined annual GDP of 57 OIC-countries is under $2 trillion. America, just by herself, produces goods and services worth $12 trillion; China $8 trillion, Japan $3.8 trillion and Germany $2.4 trillion (purchasing power parity basis). Oil rich Saudi Arabia , UAE, Kuwait and Qatar collectively produce goods and services (mostly oil) worth $500 billion; Spain alone produces goods and services worth over $1 trillion, Catholic Poland $489 billion and Buddhist Thailand $545 billion. (Muslim GDP as a percentage of world GDP is fast declining).

So, why are Muslims so powerless? Answer: Lack of education.

Vatican File December 23, 2008

Posted by catatantarbiyah in Mozaik.
Tags:
add a comment

Tidak sengaja sambil lembur menyelesaikan beberapa tugas sebelum ditinggal cuti akhir tahun, saya menemukan sebuah film dokumenter di saluran TV Star Movies. Film dokumenter ini berisi tentang kasus pencabulan oleh pastor-pastor gereja Katolik di Amerika Serikat. Dalam film ini digambarkan bagaimana sang korban dan keluarganya berusaha meminta keadilan kepada institusi gereja Katolik di Vatikan atas kejahatan yang dilakukan pastor atas putri mereka. Mereka menuntutnya secara damai, dengan dibantu seorang pengacara mereka menuliskan surat kepada institusi gereja. Namun, sungguh mengecewakan, jangankan mendapatkan balasan atas surat mereka, bahkan mereka diusir ketika akan mengirimkan surat tersebut. Dan kasus tersebut kemudian melahirkan gelombang unjuk rasa di berbagai belahan dunia karena ternyata kasus pencabulan seperti yang dialami korban adalah puncak gunung es, jumlah yang tampak hanyalah sedikit dari jumlah sesungguhnya.

Kasus ini menyebabkan gelombang ketidakpercayaan pada agama meningkat, beberapa orang yang menyatakan tidak lagi mempercayai agama ditampilkan di film ini. Salah satunya adalah ayah korban yang tampak sangat kecewa, bapak tua itu menyatakan bahwa tidak ada Tuhan.

Jika dinalar dengan sehat sesungguhnya kasus tersebut tidak mengherankan. Manusia diciptakan dengan perangkat jasad, pikiran, dan jiwa yang tentunya ada nafsu di sana. Penciptaan manusia seperti itu adalah kehendak dari Yang Maha Kuasa agar manusia mampu menjalankan amanah berat untuk menjadi pengelola bumi ini. Namun, manusia yang tanpa petunjuk wahyu telah mengubahnya, menafikan adanya nafsu pada diri manusia. Manusia tanpa petunjuk wahyu telah salah menempatkan nafsu pada titik ekstrim yang salah. Mereka menganggap nafsu, pernikahan, adalah suatu hal yang tidak boleh dilakukan oleh “orang-orang suci” mereka. Dan ternyata, menurut film tadi, peraturan ini memiliki latar belakang materi, agar kekayaan gereja tidak diwariskan keluar gereja.

Dan sudah merupakan sebuah sunnatullah bahwa kehidupan akan mencari jalannya hingga kemudian yang dikekang itu menemukan jalannya yang salah. Yang dipandang akan mengangkat derajat mereka sebagai manusia justru menjatuhkan mereka ke tempat yang paling hina. Semua terjadi karena mereka lakukan tanpa petunjuk wahyu, tanpa tuntunan Sang Pencipta.

Sesungguhnya Allah SWT tidak memerintahkan demikian. Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengambil jalan tengah, bukan ekstrim kiri dengan kebebasan tanpa batas atau ekstrim kanan dimana nafsu dinafikkan sepenuhnya. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyalurkannya secara halal melalui lembaga pernikahan, dimana hubungan antara laki-laki dengan perempuan adalah halal dan segala sesuatu di dalamnya justru bernilai ibadah. Subhanallah.

Semoga mereka berpikir dengan pikiran jernih mereka sehingga mampu melihat bahwa Islam yang telah disempurnakan Allah SWT bagi umat manusia adalah jalan yang akan membawa manusia kepada keselamatan hidup di dunia dan Insya Allah di akhirat kelak. Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya dengan sangat, jauh lebih dari mereka mencintai diri mereka sendiri. Namun, sedikit dari hamba-hamba-Nya yang menyadarinya apalagi yang mau berusaha mensyukuri segala nikmat yang diberikan. Wallahu’alam bi shawab.

Merantau December 20, 2008

Posted by catatantarbiyah in Tarbiyah.
add a comment

Berpindah-pindah tempat tinggal nampaknya sudah menjadi bagian dari hidup saya. Dalam usia belum genap 25 tahun, setidaknya sudah 5 kota menjadi tempat tinggal saya. Dan di masa depan, kemungkinan untuk berpindah-pindah tempat tinggal masih terbuka lebar. Apalagi jika saya memilih untuk berkarir di profesi saya sekarang.

Berpindah-pindah tempat tinggal atau mungkin bisa disebut merantau adalah hal biasa bagi sebagian orang, bahkan ada beberapa suku di Indonesia yang menjadikan merantau adalah suatu hal yang wajib dilakukan jika seseorang ingin dianggap sebagai manusia dewasa. Tapi di sisi lain, banyak pula orang Indonesia yang enggan merantau. “Mangan ora mangan asal kumpul” (Makan tidak makan asal kumpul), masih melekat di benak banyak orang sehingga tidak heran bahwa orang Indonesia termasuk yang jarang berpergian ke luar negeri.

Saya bersyukur memiliki pengalaman berpindah-pindah tempat tinggal, dan sekarang pun saya hidup di perantauan. Walau jauh dari keluarga dan orang-orang yang saya kenal dan harus memulai dari nol lagi hubungan-hubungan sosial, saya menikmatinya. Walau harus diakui, perantauan masa kini tidak sesulit dahulu, kemajuan teknologi informasi telah memudahkan banyak hal, termasuk menjaga silaturahim saya dengan orang-orang yang saya kenal.

Dengan merantau, wawasan dan pola pikir saya jadi lebih terbuka. Pikiran kita selalu dikondisikan untuk menerima hal-hal baru karena di perantauan banyak hal yang tidak kita ketahui, berbeda dengan ketika kita berada di tempat asal kita yang hampir-hampir segala sesuatunya telah kita ketahui. “Pikiran yang terbuka adalah sebuah modal yang baik untuk maju”, begitu seorang dosen saya pernah berkata.

Mungkin inilah salah satu rahasia kecerdasan Rasulullah SAW. Sejak kecil Rasulullah SAW telah terbiasa melakukan perjalanan jauh mengingat beliau dibesarkan di tengah budaya saudagar Arab yang tentunya sering melakukan berbagai perjalanan dagang. Maka, sejak kecil Rasulullah telah terbiasa melihat hal-hal baru di luar lingkungan kesehariannya. 

Rasa-rasanya ingin juga hal ini dirasakan anak-anakku kelak, mereka harus terbiasa menerima hal-hal dan lingkungan baru, belajar beradaptasi dengan cepat. Memang setiap pilihan ada plus minusnya, dengan berpindah-pindah tempat tinggal ada kemungkinan anak-anak tidak sempat membina hubungan persahabatan dengan teman-teman kecilnya. Dan mungkin pula anak-anak akan bingung dan gamang dengan budaya lingkungannya yang berubah-ubah.

Tapi, aku yakin hal itu bisa diatasi karena Insya Allah kemana pun kaki ini melangkah, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya “sendirian”, pastilah cepat atau lambat akan dipertemukan dengan saudaranya. Salah satu hal yang sangat kusyukuri karena mengenal dakwah ini adalah relatif mudahnya memulai lagi hubungan sosial di tanah perantauan. Kesamaan visi dan cara pembinaan telah memudahkan semua. Oleh karena itu, aku percaya bahwa akan ada satu lingkungan dan budaya yang akan mewarnai anak-anakku kelak, yaitu budaya dan lingkungan tarbiyah dan dakwah.

Sederhana Saja Yang Kuminta December 14, 2008

Posted by catatantarbiyah in Doa.
Tags:
add a comment

Sederhana saja yang kuminta. Dia tak perlu membawa banyak harta, tak perlu seorang bangsawan atau punya jabatan, dan tak perlu pula terlihat tampan.

Sederhana saja yang kuminta. Dia hanya perlu baik dalam agama dan akhlaknya. Karena itulah yang dilihat ibunda Khadijah ketika memilih pemuda Muhammad menjadi pendamping hidupnya.

Sederhana saja yang kuminta. Dia hanya perlu memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas dan mulia. Karena untuk itulah seorang Muslim hidup. Tidak diciptakan satu makhluk pun di dunia, kecuali untuk beribadah kepada Allah semata.

Sederhana saja yang kuminta. Dia hanya perlu memiliki semangat untuk maju dan berjuang. Karena tahta sebagai umat terbaik hanya akan Allah kembalikan kepada umat ini dengan kesungguhan doa dan unjuk kerja.

Sederhana saja yang kuminta. Keluarga barakah di jalan dakwah…

Dia Yang Bagaimana? December 10, 2008

Posted by catatantarbiyah in Keluarga.
Tags:
add a comment

“Mbak, kalau sama polisi nggak suka ya?” pertanyaan seorang bapak rekan kerja dalam sebuah perjalanan dinas membuyarkan perhatianku pada hamparan sawah di kiri kanan jalan yang kami lalui. “Hmm…maksudnya pak?” tanyaku tak paham dengan pertanyaan beliau. “Ya, kalau dapat polisi bagaimana? Hehe…tetangga saya ada yang bujangan tuh, polisi.” Oh…aku segera memahami maksud beliau. Beginilah “nasib” sebagai satu-satunya pegawai yang belum menikah di kantor, pertanyaan-pertanyaan senada sering kujumpai dalam berbagai kesempatan. Baik dalam format serius maupun bercanda.

“Hmm…wah nggak tahu pak. Nggak kepikiran.” ujarku. Ternyata pertanyaan iseng itu membuatku jadi berpikir, “Iya ya…saya tidak pernah memikirkan seperti apakah sosok yang kelak akan bersama-sama saya mengarungi samudra hidup.” Saya memang bukan tipikal orang yang mengangankan bagaimana kelak hidup berumah tangga, berkeluarga, memiliki anak dan lainnya, hal-hal seperti itu menjadi prioritas entah urutan keberapa dalam pikiran saya, terlebih lagi jika masanya sibuk dengan berbagai aktivitas di kampus, di kantor, atau di luar keduanya. Urusan yang satu ini hampir-hampir tidak masuk ke rencana hidup jika bunda tidak serius mengingatkan pada suatu waktu.

Menikah adalah sunnah Rasulullah, siapa yang membenci urusan ini tidak termasuk umat Rasulullah SAW. Dan seburuk-buruk orang yang meninggal adalah orang yang meninggal dalam keadaan membujang. Naudzubillah…tidak sih, saya tidak membenci urusan yang satu ini, hanya saja tidak cukup menaruh perhatian pada urusan penting yang satu ini. Tapi, nampaknya kondisi lingkungan beberapa waktu belakangan ini telah memaksa saya untuk lebih serius memberi perhatian pada hal yang satu ini. Jika ingin menjaga hati dan pikiran agar tetap bersih dan jernih.

Tapi, “dia” yang bagaimana ya? Kembali pertanyaan bapak itu mengisi ruang pikiranku…

Liqo (1): Kemanakah Adab Itu? December 9, 2008

Posted by catatantarbiyah in Liqo.
add a comment

Handphone ku berdering. Oh…Ummi tersayang menelpon, pasti sesuatu yang penting. “Assalamu’alaikum…” jawabku. “Wa’alaikumsalam warahmatullah…” suara yang hangat kudengar dari seberang sana, suara kedua yang paling kurindukan setelah suara Mama. “Dek…” suara itu melanjutkan, “Daging kurban antum ada di rumah ya. Kalau dipakai untuk liqo fanniyah kita pekan ini bagaimana?” tanya Ummi padaku. “Tafadhal ummi, saya sudah pasrahkan semua. Lagipula kalau mau diambil, di kost siapa yang akan memasaknya? Nggak apa-apa Ummi dipakai saja.” jawabku.

“Dek…” Ummi kembali melanjutkan, “kalau liqo kita dimundurkan menjadi Rabu atau Sabtu bagaimana? Ada agenda DPD yang berubah Selasa besok.” tanya Ummi padaku. “Hmm…rencananya Sabtu ingin pulang Ummi, ada sahabat saya akan menikah. Kalau hari Rabu, sulit memastikan hadir kalau di hari kerja, suasana kantor tidak bisa ditebak.” jawabku tanpa pikir panjang, seolah-olah di dunia ini hanya aku yang punya kesibukan. “Oh…ya sudah nanti coba tanya Mbak Dian apakah beliau bisa hadir atau tidak? Sudah dulu ya dek. Assalamu’alaikum.” Ummi mengakhiri percakapan.

Satu…dua…tiga…deg…astaghfirullah…segunung rasa bersalah memenuhi benakku. Kok bisa-bisanya aku berkata seperti itu pada murabbi-ku yang bahkan telah bersusah payah menelpon mutarabbi-nya satu per satu untuk menanyakan sejenak waktu senggang para mutarabbi-nya agar majelis pekanan itu bisa terselenggara dengan baik. Padahal jelas urusan beliau bukan hanya satu halaqah ini. Dan jelas menelpon satu per satu mutarabbi-nya tentu memerlukan biaya yang tak sedikit. Lagipula, bukankah harusnya mutarabbi yang bersusah payah menyesuaikan dengan murabbi-nya, bukan sebaliknya? Dimanakah adab dan sopan santun menuntut ilmu itu? Ilmu hendaklah dituntut, bukan ilmu yang harus mengejar-ngejar para “penuntutnya”. Astaghfirullah…

Kuambil handphone, segera kukirim SMS meralat pernyataanku tadi. “Saya akan usahakan semaksimal mungkin untuk hadir Ummi, kapan pun Ummi mau menjadwalkan liqo.” Maafkan anakmu ini Ummi yang jangankan untuk membalas segenap cinta yang engkau berikan, sekedar membalas sapaan hangatmu saja diri ini tidak bisa. Ummi, semoga barakah dan ridha Allah subhana wa ta’ala senantiasa meliputi langkahmu…Uhibbukum fillah…

Langkah Pertama December 9, 2008

Posted by catatantarbiyah in Doa.
Tags:
add a comment

Setahun, dua tahun, tak terasa beberapa tahun sudah kulalui bersama pilihan ini. Namun, ketika kucoba jujur pada diri sendiri, ah…ternyata betapa jauhnya aku dari kualitas seorang Muslim. Memalukan.

Entah terbang melayang kemana segenap materi, tausiyah, taujih, yang seringkali kudapat di berbagai forum liqo, daurah, mabit, dan juga rapat-rapat itu. Ya Rabb, hamba-Mu ini mohon ampun atas segenap kelalaian.

Hamba mohon keridhaan-Mu atas upaya hamba kali ini. Hamba hanya ingin menjadi hamba-Mu yang meraih akhir yang baik bersama-Mu. Amin.